Feeds:
Tulisan
Komentar

Peta

Diskominfo Subang
Dalam rangka menindak lanjuti kebijakan pemerintah daerah untuk menggalakan gerakan penanaman pohon satu orang satu pohon (one man one tree) di seluruh wilayah Kab. Subang, sebagai upaya pencegahan pemanasan global, Kecamatan Subang langsung merespon baik program tersebut, dengan melaksanakan penanaman pohon secara bertahap, untuk tahap pertama dilaksanakan penanaman di wilayah Sukamelang sebanyak 500 pohon, yang dikonsentrasikan dibeberapa titik yaitu di belakang Pasar Terminal Subang, Situ Saeur dan di pinggir jalan sekitar rumah warga, demikian yang disampaikan Camat Subang, Tatang Supriatna. Pada saat membuka gerakan penanaman Satu orang satu pohon (one man one tree), Jum’at (18/12) di Kelurahan Sukamelang.
Menurut Tatang, jangan sampai penanaman pohon ini hanya sebagai kegiatan ceremonial saja, akan tetapi harus lebih dikaji dan ditindak lanjuti, dengan cara pohon yang sudah ditanam maupun pohon yang sudah ada dikelola dengan baik, agar pohon tersebut dapat tumbuh dengan sempurna, karena dengan semakin banyak pohon yang tumbuh “maka secara tidak langsung kita sudah dapat menghambat pemanasan global”, selain itu juga menurut tatang, pengaruh rusaknya lingkungan akan berdampak buruk bagi kelangsungan kehidupan, selain bisa mengakibatkan pemanasan global juga akan mengakibatkan bencana alam seperti longsor, kekeringan, banjir dan polusi udara lainnya. Ungkapnya.
Hal serupa juga disampaikan oleh Ketua Panitia Gerakan penanaman pohon tingkat Kelurahan Sukamelang, Dali, mengatakan, bahwa gerakan penghijauan tingkat Kecamatan Subang dikonsentrasikan di Kelurahan Sukamelang menurutnya sangat tepat, kerena di daerah Sukamelang banyak terdapat galian C dan pengeboran MIGAS (minyak dan gas), sehingga akan berpengaruh terhadap lingkungan di wilayah Sukamelang khususnya, oleh sebab itu Dali mengharapkan kegiatan penghijauan tersebut jangan hanya dilakukan oleh pihak pemerintah daerah setempat dalam hal ini kecamatan dan seluruh warga Sukamelang saja akan tetapi diperlukan juga peran aktif dari semua unsur baik dari pengusaha galian C maupun dari pihak pertamina setempat. Tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Sekretaris Kelurahan Sukamelang Kecamatan Subang, Yayan Sopyan, S.AN, menambahkan, pihaknya menyambut baik dan memberikan apresiasi setinggi-tingginya atas diselenggarakannya kegiatan ini, karena menurutnya untuk menjadi sebuah kelurahan mandiri gotong-royong salah satu syaratnya di lingkungan tersebut harus sudah bersih, bebas dari polusi semuanya sudah tertata dengan rapih, oleh karena itu sebagai kelurahan yang akan dijadikan pilot projek Kelurahan Mandiri Gotong-royong, “diharapkan dengan diadakannya kegiatan ini bisa dijadikan tantangan bagi seluruh warga Sukamelang sehingga yang menjadi harapan semua warga Sukamelang yaitu menjadi kelurahan yang mandiri disemua sektor bisa terwujud”. Ujarnya. (Denny)

Kelurahan adalah unit Negara terkecil dan mengandung berbagai kebutuhan layaknya sebuah Negara untuk mensejahterakan masyarakatnya. Kelurahan membutuhkan kekuatan dan kesinambungan Ipoleksosbudhankamrata. Oleh karena itu tidak ada sebuah Negara dikatakan sejahtera apabila masyarakat di Kelurahannya tidak sejahtera.

Atas pentingnya posisi Kelurahan dalam sebuah Negara dan Daerah sebagai penentu kemajuan dan pembangunan, maka pemerintah Kelurahan berkepentingan besar untuk meningkatkan taraf kehidupan masyarakatnya dalam berbagai bidang pembangunan dengan menumbuhkembangkan potensi yang ada di Kelurahan Sukamelang sesuai dengan arah dan kebijakan pembangunan yang tepat dan benar. (Mang Eep Hidayat-kelurahan mandiri gotong royong).<

Upaya Kelurahan Sukamelang untuk memfokuskan pembangunan yang merupakan pilot project Kelurahan Mandiri Gotong Royong di Kecamatan Subang terus melakukan sosialisasi penggalian kembali nilai-nilai semangat gotong royong yang ada di wilayah Kelurahan Sukamelang. Berbagai macam kegiatan yang bersifat gotong royong telah dilaksanakan dengan diawali pendataan penduduk yang mencakup berbagai permasalahan sosial yang ada di Kelurahan Sukamelang.

Pembangunan dalam suatu wilayah atau daerah  adalah bagian integral  dari pembangunan nasional yang dilaksanakan berdasarkan prinsip otonomi daerah yang kondusif  baik ekonomi, pendidikan, kesehatan, sosial, politik dan keamanan. Maka atas dasar hal tersebut, sesuai dengan motto Kabupaten Subang “Rakyat Subang Gotong Royong Subang maju ” sudah sewajarnyalah tingkat pemerintahan yang paling bawah yaitu Kelurahan/Desa harus sudah mandiri dalam melaksanakan pembangunan diwilayahnya sesuai dengan tujuannya yaitu “ Mewujudkan Desa/Kelurahan Mandiri Gotong Royong”, terutama dalam meningkatkan partisipasi masyarakat agar TAHU, MAMPU, dan MAU (TMM) . Proses ini akan terjadi apabila Gotong Royong dilaksanakan sebagai motivator / penggerak pembangunan di wilayah Kelurahan/Desa.

Adapun siklus yang telah dilaksanakan yaitu sosialisasi Gerakan Gotong Royong karena dengan bergotong royong maka pembangunan akan semakin mudah dilaksanakan.

1.   Bersama Membangun Kebersamaan ,

2.   Bersama sebagai gerakan moral melaksanakan pembangunan,

3.   Bersama kenali sikap Kita,

4.   Bersama Kenali  lingkungan Kita,

5.   Bersama Membangun Kelembagaan wadah Pelaksanaan Pembangunan,

6.   Bersama menyusun Perencanaan Pembangunan.

Di dalam perencanaan partisipatif dikenal dengan istilah “Daur Ulang Program”, artinya tahapan-tahapan dalam pengembangan program mulai dari identifikasi masalah sampai pemecahan masalah dan kebutuhan, pencarian alternatif kegiatan, pengorganisasian dan pelaksanaan kegiatan serta pemantauan dan evaluasi program. Profil merupakan salah satu bagian dari proses Daur Ulang Program, dimana didalam daur perencanaan partisipatif, kita kenal dengan proses pembelajaran : Pemetaan Swadaya (PS), Pengorganisasian Masyarakat dan pelaksanaan kegiatan Rencana Tahunan. Semua rangkaian daur perencanaan partisipatif merupakan siklus belajar bagi masyarakat dimana antara siklus-siklus yang ada satu sama lain saling berkaitan.

Selain itu, belum maju dan meningkatnya pembangunan di wilayah Kelurahan di  Kecamatan Subang diakibatkan oleh adanya dampak krisis multidimensi. Pada pasca krisis ini tampak adanya perbaikan, walaupun baru sedikit tetapi perlu dijaga kelangsungannya agar tidak terjadi lagi krisis kedua. Salah satu cara untuk menjaga kelangsungannya yaitu melalui gotong royong pada suatu kawasan atau wilayah dengan mengembangkan keterpaduan kegiatan ekonomi dan pemberdayaan masyarakat. Untuk melaksanakan hal tersebut diperlukan adanya keterpaduan  perencanaan dari bawah atau Bottom up planning salah satu bentuk nyatanya adalah penyusunan Profil tingkat Kelurahan supaya program untuk masyarakat lebih mudah disalurkan kepada rumah tangga sasaran. Data yang diambil dari masyarakat difasilitasi oleh pihak kelurahan dan mitra kerja serta dibantu oleh semua unsur yang ada dimasyarakat.

/rid. Lanjut Baca »

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.